Pembinaan santri tidak cukup hanya dengan aturan dan pengawasan; ia membutuhkan kesamaan niat, keselarasan sistem, serta pendekatan yang tepat dari seluruh pendidik. Tanpa itu, proses pembentukan akhlak, ibadah, dan karakter akan berjalan parsial dan kurang berdampak.

Hal tersebut menjadi penegasan utama dalam Rapat Koordinasi Wali Kelas dan Wali Asrama PPMI Shohwatul Is’ad yang dilaksanakan pada Rabu (29/4) dengan melibatkan jajaran pimpinan, kepala sekolah, serta para wali kelas dan wali asrama SMP dan SMA.

Dalam arahannya, Direktur Kepondokan menekankan bahwa fondasi pertama yang harus diperkuat adalah keikhlasan karena Allah. Keikhlasan bukan sekadar nilai personal, tetapi menjadi energi utama dalam menjalankan amanah pembinaan, sehingga setiap upaya mendidik santri dilakukan dengan kesungguhan, kesabaran, dan orientasi ibadah.

Lebih lanjut, beliau mengingatkan pentingnya kesamaan sistem antara wali kelas dan wali asrama. Keduanya tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling melengkapi dalam satu tujuan besar, yaitu memperbaiki santri dari sisi akhlak, ibadah, dan karakter. Dengan sistem yang selaras, tidak terjadi tumpang tindih ataupun kesenjangan pembinaan antara lingkungan sekolah dan asrama.

Selain itu, pendekatan pembinaan diarahkan pada penerapan prinsip telling, time, together, dan touch. Telling dimaknai sebagai pemberian arahan dan nasihat yang jelas dan berulang; time sebagai kesediaan meluangkan waktu untuk mendampingi santri; together sebagai upaya membersamai dalam aktivitas positif; serta touch sebagai bentuk perhatian dan pendekatan personal yang menyentuh hati. Keempatnya bukan sekadar konsep, melainkan strategi praktis yang saling melengkapi dalam membangun kedekatan dan pengaruh terhadap santri.