Perbedaan pendapat sering kali dipandang sebagai sumber perselisihan. Padahal, ketika dikelola dengan baik, perbedaan justru dapat melahirkan gagasan baru dan memperkaya cara pandang terhadap suatu persoalan. Karena itu, budaya berdebat secara sehat perlu menjadi bagian dari proses pembelajaran peserta didik.

Semangat itulah yang mewarnai pelaksanaan Lomba Debat Bahasa Indonesia (LDBI) dan National Schools Debating Championship (NSDC) 2026 tingkat Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan yang digelar pada Sabtu (30/5) di PPMI Shohwatul Is’ad. Kegiatan ini mempertemukan peserta didik dari berbagai sekolah untuk menguji kemampuan berpikir kritis, menyusun argumentasi, dan mempertahankan gagasan secara logis dalam forum debat yang kompetitif.

Ketua Panitia Lomba, Muhammad Arif Yusuf, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa pemilihan PPMI Shohwatul Is’ad sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Menurutnya, kualitas fasilitas dan kesiapan penyelenggaraan yang dimiliki Shohwatul Is’ad menjadi pertimbangan utama panitia dalam menentukan tempat pelaksanaan kompetisi.

“Shohid sebagai tuan rumah soal fasilitas tidak pernah gagal. Itu alasan kami selalu memilih Shohid sebagai tempat kompetisi ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, Muhammad Arif Yusuf menjelaskan bahwa LDBI dan NSDC memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan komunikasi peserta didik. Menurutnya, debat merupakan “sarapan” yang diperlukan untuk memperkuat keterampilan berbicara di depan umum, terutama bagi generasi muda yang akan menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Sementara itu, Kepala SMA IT Shohwatul Is’ad dalam sambutannya menuturkan bahwa debat bukan sekadar ajang adu pendapat untuk menentukan pemenang. Di dalamnya terdapat proses berpikir yang mendorong peserta didik melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, menguji argumentasi, serta menemukan gagasan-gagasan baru yang mungkin belum pernah dipertimbangkan sebelumnya.

Menurutnya, kemampuan berpikir kritis yang dilatih melalui debat merupakan bekal penting bagi peserta didik dalam menghadapi tantangan pendidikan maupun kehidupan bermasyarakat. Sebab, setiap gagasan yang lahir dari proses dialog dan pertukaran pandangan akan memperkaya wawasan serta melatih peserta didik mengambil keputusan secara lebih bijaksana.

Melalui kompetisi ini, peserta tidak hanya dituntut mampu berbicara dengan baik, tetapi juga belajar menyusun alasan yang kuat, menghargai perbedaan pandangan, dan membangun budaya diskusi yang sehat. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang mampu menyampaikan gagasan secara rasional sekaligus terbuka terhadap berbagai perspektif.