Momentum pertandingan final Piala Dunia 2026 dimanfaatkan PPMI Shohwatul Is’ad sebagai ruang rekreasi yang sehat dan terarah melalui kegiatan nonton bareng (nobar) dan bazar santri yang digelar pada Senin (20/7) dini hari. Kegiatan ini menjadi sarana mempererat ukhuwah sekaligus menghadirkan suasana kebersamaan di tengah padatnya agenda akademik dan kepesantrenan.

Seluruh santri mengikuti kegiatan tersebut dengan didampingi para pembina asrama dan pegawai. Nobar dipusatkan di dua lokasi, yakni Auditorium Al Hijrah yang didukung fasilitas videotron untuk santri putra serta Musala Shafa Annisa yang dilengkapi televisi untuk santri putri. Pengaturan lokasi dilakukan agar kegiatan tetap berlangsung nyaman, tertib, dan sesuai dengan budaya kehidupan di lingkungan pesantren.

Suasana semakin semarak ketika sejumlah santri mengenakan atribut tim nasional yang mereka dukung. Sorak sorai dan tepuk tangan mewarnai jalannya pertandingan, menciptakan pengalaman yang menyenangkan tanpa menghilangkan nilai-nilai kedisiplinan yang menjadi budaya di lingkungan pesantren.

Keseruan nobar juga dihadirkan melalui bazar santri yang menyajikan beragam makanan ringan dan minuman. Selain menambah semarak suasana, bazar tersebut menjadi ruang bagi santri untuk belajar mengelola usaha sederhana, melatih tanggung jawab, kemampuan melayani, serta menumbuhkan jiwa kewirausahaan dalam suasana yang menyenangkan.

Meski berlangsung hingga menjelang pagi, kegiatan tetap berjalan dengan tertib. Saat azan Subuh berkumandang, seluruh santri segera meninggalkan lokasi nobar untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah. Momen tersebut menunjukkan bahwa rekreasi di lingkungan pesantren tetap berjalan selaras dengan pelaksanaan ibadah, pembinaan adab, dan kedisiplinan yang menjadi bagian dari kehidupan santri sehari-hari.

Inilah wajah pesantren yang adaptif yang mampu mengakomodasi antusiasme santri terhadap peristiwa global tanpa kehilangan jati dirinya sebagai lembaga pendidikan Islam. Rekreasi, kebersamaan, kewirausahaan, ibadah, dan pembinaan karakter berjalan beriringan dalam satu pengalaman pendidikan yang utuh, sehingga setiap momentum tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga bagian dari proses pembentukan karakter santri.