Oleh Humas Pondok Shohwatul Is’ad

Perpaduan visi pendidikan Islam KH. Dr. Masrur Makmur Latanro, M.Pd.I dan kepakaran e-learning Prof. Dr. Yusring Sanusi Baso melahirkan penguatan pembelajaran digital melalui Ta’allum, pemanfaatan Chromebook, serta sistem pengawasan berbasis teknologi.

PANGKEP — Transformasi digital di Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Shohwatul Is’ad tidak terlepas dari kolaborasi antara pendiri sekaligus Pembina Yayasan, KH. Dr. Masrur Makmur Latanro, M.Pd.I., dan Ketua Yayasan, Prof. Dr. Yusring Sanusi Baso, S.S., M.App.Ling. Keduanya memiliki perhatian besar terhadap pengembangan pendidikan Islam yang memadukan pembinaan akhlak, penguasaan ilmu pengetahuan, dan pemanfaatan teknologi modern. Prof. Yusring sendiri dikenal sebagai akademisi Universitas Hasanuddin yang telah merintis e-learning sejak awal 2000-an dan memperoleh penghargaan sebagai praktisi e-learning dari Direktorat Pendidikan Tinggi bersama PT Telkom Indonesia Tbk. pada 2015. Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam mendukung visi KH. Masrur untuk membangun pesantren yang tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman sekaligus responsif terhadap perkembangan teknologi pendidikan.

Kolaborasi keduanya semakin terlihat melalui pengembangan dan penerapan Learning Management System (LMS) Ta’allum, platform pembelajaran digital yang digunakan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di Shohwatul Is’ad. Pemanfaatan Ta’allum tidak hanya menjadi bagian dari kebijakan pendidikan pesantren, tetapi juga memperoleh perhatian akademik melalui penelitian. Pada 2024, KH. Dr. Masrur Makmur menyelesaikan disertasinya di Universitas Hasanuddin berjudul Ta’allum: Model Pembelajaran Bahasa Asing dengan Saluran Terintegrasi Luring dan Daring pada PPMI Shohwatul Is’ad. Penelitian tersebut mengkaji model pembelajaran bahasa asing yang mengintegrasikan kegiatan tatap muka dan pembelajaran daring, dengan hasil yang menunjukkan bahwa pemanfaatan Ta’allum mendukung peningkatan nilai santri dan kenyamanan mereka dalam mengikuti pembelajaran serta evaluasi. Sebelumnya, kedua tokoh ini juga telah berkolaborasi dalam penelitian mengenai pemanfaatan e-learning untuk meningkatkan peran guru bahasa asing. Perpaduan pengalaman praktis dan penelitian ilmiah tersebut menjadikan Ta’allum bukan sekadar aplikasi pembelajaran, tetapi juga model inovasi pendidikan yang berpotensi menjadi rujukan bagi pesantren lain.

Penerapan teknologi pembelajaran tersebut turut didukung oleh pemanfaatan Chromebook oleh seluruh santri sebagai perangkat penunjang kegiatan akademik. Melalui perangkat ini, santri dapat mengakses materi pembelajaran, mengerjakan tugas, dan mengikuti evaluasi berbasis digital melalui Ta’allum. Kebijakan penggunaan Chromebook tetap berada dalam kerangka pembelajaran terstruktur dengan pendampingan dan pengawasan guru. Pesantren tidak memandang literasi digital sebagai kebebasan menggunakan perangkat elektronik tanpa batas, melainkan sebagai kompetensi yang perlu dikembangkan secara bertanggung jawab. Penggunaan perangkat untuk pembelajaran dibedakan dari penggunaan telepon genggam pribadi yang tetap dibatasi sesuai ketentuan pesantren. Dengan demikian, penguatan kompetensi teknologi diupayakan berjalan seiring dengan pembentukan disiplin, tanggung jawab, dan akhlak santri.

Modernisasi tersebut juga diterapkan dalam pengelolaan keamanan dan pengawasan lingkungan pesantren. Shohwatul Is’ad mengembangkan sistem Closed-Circuit Television (CCTV) yang menjangkau berbagai area kegiatan, mulai dari ruang pembelajaran, fasilitas bersama, hingga lingkungan asrama. Teknologi ini membantu pengelola dan pengasuh dalam memantau aktivitas, menjaga ketertiban, serta merespons situasi yang memerlukan perhatian. Meskipun demikian, penggunaan CCTV tetap memperhatikan penghormatan terhadap privasi santri. Area pribadi seperti kamar tidur dan kamar mandi tidak menjadi lokasi pemasangan kamera pengawas. Kebijakan ini mencerminkan upaya menyeimbangkan kebutuhan keamanan dan pengawasan dengan prinsip perlindungan serta kenyamanan seluruh warga pesantren.

Kolaborasi KH. Dr. Masrur Makmur Latanro dan Prof. Dr. Yusring Sanusi Baso memperlihatkan bahwa pengembangan pesantren modern membutuhkan keselarasan antara visi kepesantrenan, kepemimpinan pendidikan, inovasi teknologi, dan penguatan nilai-nilai keislaman. Pengalaman melalui Ta’allum, pemanfaatan Chromebook, dan pengembangan sistem pengawasan digital, Shohwatul Is’ad terus berupaya membangun lingkungan pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai lembaga pendidikan Islam. Di Shohwatul Is’ad, teknologi bukanlah pengganti peran guru, pengasuh, maupun pembinaan akhlak, melainkan sarana untuk memperkuat pendidikan dan menyiapkan generasi santri yang berilmu, melek teknologi. dan berkarakter. Penerapan tehnologi sebagai inovasi akademik bisa diadopsi pesantren-pesantren dimana pun berada. Teknologi adalah wasilah, akhlak adalah ghayah (tujuan). Di Shohwatul Is’ad, secanggih apa pun medianya, titik sumbunya tetap satu: akhlakul karimah.

Pendiri dan Pembina Yayasan Pesantren Shohwatul Is’ad, bapak KH. Dr. Masrur Makmur Latanro, M.Pd.I acapkali mengutip tokoh pemikir Barat, William Franklin Graham: “If wealth is lost, nothing is lost. If health is lost, something is lost. But, if character is lost, everything is lost.”