Prestasi tidak lahir pada saat nama seorang santri dipanggil sebagai juara. Jauh sebelum itu, ada proses panjang untuk menemukan potensi, mengasah kemampuan, sekaligus memastikan bahwa potensi tersebut berada di tangan yang tepat untuk dikembangkan.

Hal inilah yang terus dibangun SMA IT Shohwatul Is’ad dalam mendampingi santri menuju berbagai ajang prestasi. Pada seleksi Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat sekolah, misalnya, kemampuan akademik memang menjadi pintu pertama. Santri mengerjakan soal-soal OSN sesuai mata pelajaran yang dipilih dan berusaha menempati posisi terbaik untuk menjadi kandidat yang akan mewakili sekolah.

Namun, Shohwatul Is’ad tidak berhenti pada angka.

Setelah mengerjakan soal, santri melewati tahapan wawancara secara langsung bersama kepala sekolah dan bidang kesiswaan. Pada tahap ini, yang diperbincangkan bukan lagi perihal benar atau salahnya jawaban namun santri diajak menunjukkan kesungguhan, kesiapan, motivasi, serta komitmennya untuk menjalani proses pembinaan.

Ada alasan mengapa tahap ini menjadi bagian dari seleksi.

Mengikuti OSN bukan perjalanan sehari. Di belakang kompetisi terdapat pembinaan yang membutuhkan waktu, kedisiplinan, kemauan belajar, dan kesediaan untuk terus memperbaiki kemampuan. Karena itu, sekolah perlu mengenal lebih jauh santri yang akan dikawal dalam perjalanan tersebut.

Wawancara menjadi ruang bagi sekolah untuk melihat potensi dari sisi yang tidak selalu tampak dalam lembar jawaban. Nilai seleksi dapat menunjukkan kemampuan yang telah dimiliki, sementara wawancara membantu membaca kesiapan santri untuk berkembang.

Dengan pendekatan ini, proses seleksi tidak lagi berputar pada penentuan siapa yang memperoleh nilai tertinggi. Sekolah berupaya menemukan santri yang memiliki kemampuan sekaligus kesiapan untuk ditempa melalui pembinaan.

Sebab, bagi Shohwatul Is’ad, mengawal prestasi berarti hadir sejak sebelum prestasi itu terlihat. Sekolah tidak menunggu santri menjadi juara untuk kemudian memberikan perhatian. Potensi justru dikenali sejak awal, dipertemukan dengan pembinaan, lalu diarahkan agar tumbuh menjadi kemampuan yang lebih matang.

Boleh jadi, medali memang berada di garis akhir. Namun, perjalanan menuju ke sana dimulai dari hal-hal yang jauh lebih sederhana: satu lembar soal, satu ruang wawancara, dan satu komitmen untuk terus berkembang.

Dari proses itulah Shohwatul Is’ad terus mengawal langkah santri yang dimulai dari potensi menuju prestasi.