Kesuksesan tidak selalu lahir dari langkah besar yang instan. Kadang, ia tumbuh dari proses panjang yang dijalani dengan sabar, konsisten, dan penuh keyakinan. Hal itu tergambar dari perjalanan seorang santri Satrio Hanif Tanribali Susetyo yang berhasil menorehkan pencapaian membanggakan setelah enam tahun menempuh pendidikan di PPMI Shohwatul Is’ad.
Lahir di Makassar pada 24 Juli 2008, Satrio dikenal sebagai pribadi yang tenang, gemar mendengarkan musik, namun memiliki semangat kuat dalam mengejar masa depan. Motto hidupnya, “Move or Rot”, menjadi prinsip yang terus ia pegang selama menjalani proses belajar di pesantren.
Perjalanan akademiknya membuahkan hasil luar biasa. Satrio berhasil diterima di enam kampus ternama, baik di dalam maupun luar negeri, yaitu:
- Victoria University of Wellington – Sarjana Komunikasi (Kajian Media & Komunikasi Antarbudaya)
- The University of Waikato – Sarjana Komunikasi (Hubungan Masyarakat & Produksi Media)
- Curtin University – Sarjana Komunikasi (Jurnalisme & Hubungan Masyarakat)
- Universitas Indonesia – Ilmu Komunikasi Kelas Internasional
- Universitas Hasanuddin – Sosiologi
- LSPR Communication and Business Institute – Komunikasi/Bisnis
Bagi Satrio, pencapaian tersebut bukan hasil kerja sendiri. Ia menilai lingkungan pesantren memiliki peran besar dalam membentuk cara berpikir, karakter, dan keberaniannya melangkah lebih jauh.
Menurutnya, para guru dan pembina di Shohwatul Is’ad menjadi support system yang terus mendampingi selama enam tahun masa pendidikan. Tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga dalam proses pembinaan diri dan penguatan mental.
Selain itu, bimbingan dari guru BK turut membantu dirinya memahami proses pendaftaran universitas, mulai dari pengenalan kampus hingga persiapan dokumen yang dibutuhkan. Dukungan kepala sekolah dalam proses pendaftaran kampus luar negeri juga menjadi bagian penting dalam perjalanannya. Ditambah lagi, fasilitas digitalisasi di lingkungan pesantren memudahkannya mengakses berbagai informasi pendidikan dan peluang studi.
Di balik keberhasilannya diterima di enam kampus bergengsi, Satrio memiliki prinsip sederhana tentang proses meraih cita-cita.
Ia percaya bahwa hal paling mendasar adalah terus berusaha tanpa harus terburu-buru. Baginya, cita-cita tidak perlu dikejar dengan langkah besar sekaligus, tetapi cukup dicicil sedikit demi sedikit secara konsisten. Kesabaran dan kepercayaan terhadap proses menjadi kunci utama.
Satrio juga menanamkan pola pikir untuk tidak terlalu takut pada kegagalan. Ia memilih mengganti pertanyaan “bagaimana kalau saya gagal?” menjadi “bagaimana kalau saya berhasil?”. Menurutnya, keberanian mencoba adalah langkah penting yang sering kali menentukan masa depan seseorang.
Selain ikhtiar, ia menekankan pentingnya mendekatkan diri kepada Allah. Ia meyakini bahwa setiap orang memiliki cara masing-masing dalam beriman. Dalam setiap aktivitas, bahkan hal kecil sekalipun, ia berusaha melibatkan Allah dan membiasakan diri bersyukur.
Menurutnya, kedekatan kepada Allah selama ini semakin tumbuh karena dukungan lingkungan Shohwatul Is’ad yang membiasakan santri hidup dengan nilai-nilai keislaman, suasana ibadah, dan pembinaan karakter setiap hari. Kebiasaan berdoa, bersedekah, beramal baik, serta hidup bersama lingkungan yang saling mengingatkan menjadi bagian penting yang paling ia rasakan selama mondok di pesantren.
Satrio juga percaya bahwa manusia tidak bisa berjalan sendiri. Karena itu, ia tidak ragu meminta bantuan, belajar dari orang lain, dan membangun relasi selama proses berkembang.
Perjalanan Satrio Hanif Tanribali Susetyo menjadi gambaran bahwa pesantren tidak membatasi santri untuk bermimpi besar. Justru dari lingkungan pendidikan berbasis nilai, disiplin, dan pembinaan karakter, lahir generasi yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.