Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, dunia pendidikan dituntut untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya. Pesantren Shohwatul Is’ad sebagai lembaga pendidikan berbasis keislaman pun tidak luput dari tantangan ini. Oleh karena itu, penerapan program digitalisasi di lingkungan Pesantren Shohwatul Is’ad menjadi langkah strategis untuk menjawab kebutuhan zaman sekaligus membekali santri dengan keterampilan yang relevan. Dari sudut pandang santri, program ini tidak hanya menghadirkan kemudahan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya penggunaan teknologi secara bijak.

Program digitalisasi yang diterapkan di lingkungan pesantren merupakan langkah yang sangat positif dan menunjukkan bahwa pesantren mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai kedisiplinan. Penggunaan Chromebook dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari memberikan kemudahan bagi santri dalam mengakses materi, mencari informasi, serta meningkatkan pemahaman melalui berbagai sumber belajar digital. Hal ini sejalan dengan apa yang saya rasakan, bahwa pembelajaran yang berlangsung menjadi lebih praktis dan tidak membosankan. Kebijakan pembatasan aplikasi saat jam pelajaran juga menjadi bentuk pengawasan yang bijak, sehingga teknologi tetap digunakan secara fokus dan tidak mengganggu proses belajar.

Hal ini sejalan dengan pendapat Munir (2017) yang menyatakan bahwa pemanfaatan teknologi dalam pendidikan dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran apabila digunakan secara terarah dan terkontrol. Dengan demikian, penggunaan teknologi di pesantren tidak hanya menghadirkan kemudahan, tetapi juga diimbangi dengan kebijakan yang tepat agar memberikan dampak positif bagi santri.

Selain itu, inovasi berupa penetapan hari Selasa sebagai Hari Literasi Digital di Shohwatul Is’ad menjadi langkah yang menarik dan progresif. Pada hari tersebut, Chromebook dapat diakses secara lebih bebas, sehingga memberikan ruang bagi santri untuk lebih eksploratif dalam menggunakan teknologi. Seorang santri lainnya, Siti Aisyah, menyampaikan bahwa kesempatan ini membuatnya lebih leluasa mencari referensi tambahan di luar materi yang diajarkan di kelas. Dengan demikian, santri dapat memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan kreativitas dan meningkatkan keterampilan digital secara mandiri.

Keberadaan fasilitas komputer yang dapat diakses kapan saja, termasuk di hari libur, semakin memperkuat program digitalisasi ini. Fasilitas tersebut terintegrasi dengan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar, sehingga memudahkan santri dalam mencari referensi, mengakses bahan bacaan digital, serta menyelesaikan tugas dengan lebih efektif dan efisien. Hal ini juga dirasakan oleh Muhammad Rizki yang sering memanfaatkan fasilitas tersebut untuk mengerjakan tugas dengan lebih cepat. Dengan adanya pengawasan, penggunaan fasilitas ini tetap berjalan secara positif dan bertanggung jawab. Perpustakaan pun tidak lagi sekadar menjadi tempat membaca, tetapi berkembang menjadi ruang belajar modern yang mampu mengintegrasikan sumber belajar konvensional dan digital secara bersamaan.

Di sisi lain, penggunaan smart board di setiap kelas turut mendukung penguatan literasi digital. Media ini memungkinkan proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan interaktif karena materi dapat disajikan dalam bentuk visual, audio, maupun video. Dampaknya, santri lebih mudah memahami pelajaran dan lebih aktif dalam mengikuti kegiatan belajar di kelas.

Sejalan dengan hal tersebut, Ng (2012) yang dimaksud adalah Wan Ng, seorang akademisi di bidang pendidikan dari Australia. Dalam karyanya “Can We Teach Digital Natives Digital Literacy?” (2012), ia menekankan bahwa literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara kritis dan bertanggung jawab. Dengan demikian, pemanfaatan smart board menjadi sarana yang tepat untuk melatih keterampilan berpikir kritis santri dalam mengelola informasi di era digital.

Secara keseluruhan, program digitalisasi ini merupakan langkah maju yang sangat bermanfaat bagi santri. Melalui sistem yang terintegrasi yang dimulai dari penggunaan Chromebook dalam pembelajaran, adanya Hari Literasi Digital, penyediaan smart board di setiap kelas, hingga fasilitas komputer yang dapat diakses oleh santri memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan digital secara seimbang. Program ini tidak hanya mendukung proses belajar, tetapi juga membentuk sikap tanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi secara bijak.

Dengan demikian, pesantren tidak hanya berperan sebagai tempat pembinaan iman dan akhlak, tetapi juga sebagai ruang pengembangan kompetensi santri dalam menghadapi tantangan zaman. Artinya, di pesantren bukan hanya nilai keimanan yang ditanamkan, tetapi juga berbagai keterampilan penting lainnya, termasuk penguasaan teknologi secara bijak. Hal ini menunjukkan bahwa Pesantren Shohwatul Is’ad mampu beradaptasi dengan perkembangan era digital tanpa kehilangan jati diri, serta tetap relevan di tengah kemajuan teknologi saat ini.

(Penulis adalah Anicha Tri Handayani. Seorang santri kelas 11 SMA IT Shohwatul Isad yang berasal dari Timika. Anicha yang lahir pada tanggal 27 Maret 2009 terkenal aktif mengisi kegiatan kepenulisan di PPMI Shohwatul Isad.)