Musim dingin masih menyelimuti langit Tokyo ketika rangkaian perjalanan hari keenam PPMI Shohwatul Is’ad di Jepang berlangsung pada Kamis (12/3). Suhu udara yang berkisar antara 1 hingga 7 derajat Celsius menghadirkan suasana yang dingin namun tenang. Di tengah hawa musim dingin itu, langkah-langkah perjalanan menjadi kesempatan untuk menyaksikan secara langsung wajah peradaban sebuah bangsa yang dikenal disiplin dan tertata.

Sejumlah titik penting di Tokyo menjadi tujuan kunjungan pada hari tersebut. Di antaranya Shibuya Crossing yang dikenal sebagai salah satu persimpangan tersibuk di dunia, Tokyo Camii Mosque sebagai pusat kegiatan umat Muslim internasional di Jepang, Tokyo Tower yang menjadi ikon kota Tokyo, serta Masjid Indonesia Tokyo yang menjadi tempat berkumpulnya komunitas Muslim Indonesia di negeri Sakura. Di sela perjalanan, rombongan juga beristirahat di Cinta Jawa Cafe Tokyo, sebuah tempat makan halal yang menghadirkan cita rasa nusantara di tengah kota metropolitan tersebut.

Perjalanan menuju Tokyo dimulai dari Yokohama, kota yang sebelumnya menjadi pusat aktivitas dakwah selama berada di Jepang. Dari kota pelabuhan itu, perjalanan darat ditempuh sekitar satu jam. Di Yokohama, berbagai kegiatan keagamaan telah dijalankan, mulai dari menjadi imam salat di masjid, mengajar baca tulis Al-Qur’an kepada anak-anak, hingga menyampaikan ceramah dan terlibat dalam aktivitas ibadah bersama komunitas Muslim setempat.

Perjalanan ini dipimpin langsung oleh pendiri dan pembina PPMI Shohwatul Is’ad, Ustadz Dr. K.H. Masrur Makmur Latanro, M. Pdi. Kehadiran beliau menjadi bagian dari upaya membuka ruang pengalaman yang lebih luas bagi santri dan pengurus pesantren untuk mengenal kehidupan masyarakat Muslim di luar negeri sekaligus melihat dinamika peradaban modern dari dekat.

Di tengah kunjungan tersebut, ada pelajaran yang terasa nyata. Kepadatan arus manusia di Shibuya Crossing tetap berlangsung dalam keteraturan yang hampir tanpa kegaduhan. Jalan-jalan kota terlihat bersih, transportasi berjalan tepat waktu, dan masyarakatnya menjalani aktivitas dengan ritme kerja yang teratur. Gambaran itu menghadirkan satu kesan kuat bahwa kemajuan sebuah bangsa sering kali dibangun dari kebiasaan kecil yang dijaga secara konsisten oleh masyarakatnya.

Kepala Humas PPMI Shohwatul Is’ad, Mukhlis Halide, Lc., MA, menyampaikan kesannya terhadap Jepang sebagai negara yang memiliki budaya kerja yang kuat. Menurutnya, Jepang dikenal sebagai negara yang sangat bersih dan tertata dengan masyarakat yang memegang filosofi Kaizen, yakni semangat untuk terus melakukan perubahan dan perbaikan demi masa depan yang lebih baik.