Untuk apa seorang santri belajar? Apakah hanya untuk mendapatkan nilai yang baik, menyelesaikan pendidikan, lalu melanjutkan ke jenjang berikutnya? Atau ada tujuan yang lebih jauh dari sekadar pencapaian akademik?

Pertanyaan tersebut menemukan jawabannya dalam amanat Ilham Nur, S.Pd., M.Pd., Gr., Kepala SMA IT Shohwatul Is’ad, saat menjadi pembina apel. Di hadapan para santri, ia menyampaikan tiga tanggung jawab yang perlu menyertai proses pendidikan seorang santri yakni beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.

Ustaz Ilham mulai mengemban amanah sebagai Kepala SMA IT Shohwatul Is’ad pada semester ganjil Tahun Ajaran 2026/2027. Dalam amanatnya, ia mengajak para santri untuk melihat proses belajar dari sudut pandang yang lebih luas. Pendidikan tidak berhenti ketika materi pelajaran dipahami atau nilai berhasil diraih, tetapi berlanjut pada bagaimana ilmu tersebut membentuk pribadi.

Belajar untuk Menguatkan Iman
Hal pertama yang ditekankan adalah beriman. Keimanan menjadi landasan yang mengarahkan seorang santri dalam memahami tujuan hidup dan menentukan sikap.
Belajar dengan kesadaran bahwa ilmu merupakan bagian dari amanah membuat proses pendidikan memiliki makna yang lebih dalam. Pengetahuan yang diperoleh di ruang kelas diharapkan tidak berhenti sebagai informasi, tetapi turut membentuk cara berpikir dan cara seorang santri mengambil keputusan.

Belajar untuk Bertakwa
Setelah iman, tanggung jawab berikutnya adalah bertakwa. Nilai ini berkaitan dengan bagaimana keyakinan diwujudkan dalam tindakan.
Bagi seorang santri, ketakwaan dapat tumbuh melalui kebiasaan menjalankan ibadah, menjaga kedisiplinan, melaksanakan amanah, serta berusaha menaati aturan yang telah ditetapkan. Kebiasaan-kebiasaan tersebut menjadi bagian dari proses pendidikan yang berlangsung setiap hari.

Belajar untuk Berakhlak Mulia
Tanggung jawab ketiga adalah berakhlak mulia. Ilmu yang dimiliki seorang santri perlu berjalan bersama sikap yang baik ketika berinteraksi dengan orang lain.

Menghormati guru, menghargai teman, menjaga tutur kata, bertanggung jawab atas tugas, dan mampu menempatkan diri dalam berbagai situasi merupakan bagian dari pembentukan akhlak. Nilai-nilai tersebut tumbuh melalui pembiasaan, keteladanan, dan pengalaman yang dijalani dalam keseharian.

Tiga tanggung jawab yang disampaikan Ustaz Ilham, beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, menghadirkan cara pandang bahwa pendidikan santri memiliki ruang yang luas. Ada pengetahuan yang dipelajari, ada kebiasaan yang dibentuk, dan ada nilai yang dihidupkan.

Maka, kembali pada pertanyaan di awal: untuk apa seorang santri belajar? Jawabannya tidak berhenti pada apa yang kelak ia ketahui, tetapi juga pada siapa dirinya setelah melalui proses pendidikan tersebut. Ilmu, iman, ketakwaan, dan akhlak diharapkan tumbuh bersama, menjadi bekal santri dalam melanjutkan perjalanan pendidikan dan menghadapi kehidupan di masa mendatang.