Ramadan selalu hadir sebagai momentum besar dalam perjalanan spiritual seorang muslim. Namun, keberkahan bulan suci tidak datang dengan sendirinya. Tanpa kesiapan yang sungguh-sungguh, Ramadan berisiko berlalu hanya sebagai rutinitas tahunan. Kesadaran inilah yang melandasi pegawai, guru, dan pembina PPMI Shohwatul Is’ad mengikuti pengajian Tarhib Ramadan yang digelar pada Ahad (15/2) di Musala As-Safa An-Nisa.

Pengajian tersebut diisi oleh Dr. Hakim Jurumiyah, Lc., MA, yang membahas pentingnya menyiapkan diri menyambut bulan Ramadan dengan penuh keberkahan. Dalam penyampaiannya, beliau menekankan bahwa persiapan Ramadan tidak cukup bersifat administratif atau fisik semata, melainkan harus berangkat dari kesiapan ruhiyah dan pemahaman keagamaan yang utuh.

Ustadz Hakim Jurumiyah menjelaskan bahwa langkah awal yang perlu dilakukan adalah memperbanyak doa kepada Allah SWT agar dipertemukan dengan bulan Ramadan serta diberikan kemudahan dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah di dalamnya. Doa, menurutnya, menjadi pintu masuk bagi seorang muslim untuk menata niat dan membangun kesungguhan dalam beribadah.

Selain berdoa, beliau mengingatkan pentingnya bertobat dan memohon ampun kepada Allah SWT sebagai upaya membersihkan diri dari dosa dan maksiat. Penyucian hati menjadi dasar agar ibadah Ramadan dapat dijalani dengan lebih tenang, khusyuk, dan bermakna.

Lebih lanjut, peserta pengajian juga diajak untuk menambah dan memperbarui ilmu serta pemahaman terkait Ramadan, baik mengenai keutamaan, hukum-hukum puasa, adab ibadah, maupun amalan-amalan sunnah yang dianjurkan. Pemahaman yang benar dinilai akan membantu seorang muslim menjalani Ramadan secara sadar, terarah, dan tidak sekadar mengikuti kebiasaan.

Beberapa amalan pendukung lainnya turut disampaikan, seperti membiasakan ibadah sunnah, memperbaiki kualitas salat, memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an, serta menumbuhkan kepedulian sosial. Seluruh materi disampaikan secara runtut dan mudah dipahami oleh peserta pengajian.

Pengajian Tarhib Ramadan ini menjadi pengingat bahwa kualitas Ramadan sangat bergantung pada kesiapan sebelum ia tiba. Tanpa doa yang sungguh-sungguh, tobat yang jujur, dan pemahaman yang diperbarui, Ramadan mudah kehilangan daya ubahnya.