Santri kelas XII SMA IT Shohwatul Is’ad mengikuti Psikotes Minat dan Bakat pada Sabtu (15/8). Kegiatan ini secara khusus diarahkan untuk membantu santri memperoleh gambaran yang lebih objektif tentang potensi diri sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan jurusan dan bidang keilmuan setelah lulus.

Psikotes dilaksanakan melalui kolaborasi antara tim Bimbingan dan Konseling (BK) SMA IT Shohwatul Is’ad dengan psikolog sekolah. Guru BK SMA IT Shohwatul Is’ad, Andi Fatimah Alam, S.Pd., M.Pd., Gr., mengatakan kerja sama tersebut menjadi bagian dari pendampingan sekolah kepada santri kelas XII yang mulai menghadapi pilihan pendidikan tinggi.

“Kegiatan ini dilaksanakan atas kerja sama BK dengan psikolog. Kami ingin membantu santri mengenali potensi dirinya sehingga mereka memiliki dasar yang lebih jelas ketika menentukan pilihan studi setelah lulus,” ujar Fatimah dalam wawancara.

Ia menjelaskan, hasil psikotes nantinya dapat menjadi bahan pendampingan bagi santri dalam proses menentukan pilihan jurusan dan perguruan tinggi. Dengan mengetahui kecenderungan potensi dan minat masing-masing, santri diharapkan tidak hanya mempertimbangkan pilihan berdasarkan informasi dari lingkungan, tetapi juga memahami apakah pilihan tersebut sesuai dengan dirinya.

Psikolog PPMI Shohwatul Is’ad, Aburizal Fatwa Ramli, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa asesmen yang dilakukan mencakup beberapa komponen yang saling berkaitan.

Pertama, psikotes memetakan kemampuan kognitif santri. Aspek ini melihat kecenderungan kekuatan santri dalam kemampuan berpikir, seperti analisis, bahasa, angka, dan kemampuan kognitif lainnya.

Kedua, asesmen memetakan minat. Bagian ini membantu melihat bidang aktivitas atau pekerjaan yang paling menarik bagi masing-masing santri. Informasi tersebut dapat memberikan gambaran mengenai bidang yang berpotensi membuat santri lebih tertarik dan termotivasi untuk mendalaminya.

Ketiga, psikotes melihat gaya kepribadian santri. Aspek ini berkaitan dengan bagaimana kecenderungan santri ketika belajar, bekerja, menyelesaikan tugas atau persoalan, serta berinteraksi dengan orang lain.

“Semua ini digabungkan untuk melihat kecocokan dengan jurusan kuliah atau bidang keilmuan yang mungkin sesuai untuk santri ke depan,” jelas Aburizal.

Pemetaan tersebut menjadi relevan bagi santri kelas XII karena pilihan jurusan akan menentukan bidang yang mereka dalami pada jenjang perguruan tinggi. Dengan adanya data dari psikotes, santri memiliki tambahan informasi untuk membandingkan pilihan jurusan dengan kemampuan, minat, dan karakter yang dimiliki.