Pondok Pesantren Shohwatul Is’ad menjadi satu dari lima pesantren di Sulawesi Selatan yang mendapat kesempatan mengikuti Workshop Pengasuh Pesantren Nasional untuk kawasan Indonesia Tengah dan Indonesia Timur di Joglo Agung, Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, Cirebon.

Keikutsertaan Shohwatul Is’ad menempatkannya dalam forum yang menjadi bagian dari rangkaian workshop nasional dan diikuti sekitar 5.000 pondok pesantren dari seluruh Indonesia. Rangkaian kegiatan digelar secara bertahap sejak Juli hingga Agustus 2026, dengan sesi terakhir secara khusus mempertemukan sekitar 250 pengasuh dan pimpinan pesantren dari wilayah Indonesia Tengah dan Indonesia Timur.

Dalam forum ini, K. H. Imam Jazuli, Lc., M.A. hadir sebagai narasumber utama. Ia merupakan pendiri sekaligus pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia 1 dan Pesantren Bina Insan Mulia 2 Cirebon. Kiai Imam Jazuli juga menjadi penggagas program nasional yang menargetkan keterlibatan 5.000 pengasuh pesantren dari berbagai wilayah Indonesia sepanjang 2026.

Program itu diarahkan untuk mendorong transformasi tata kelola, pengembangan kelembagaan, pelayanan santri, hingga strategi pengembangan pesantren agar lebih adaptif menghadapi tantangan zaman. Karena itu, workshop ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas pesantren. Seluruh pembiayaan peserta pun ditanggung oleh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia dan Fondation Imam Jazuli.

Bagi Shohwatul Is’ad, forum nasional ini menjadi ruang strategis untuk memperluas wawasan sekaligus memperkuat pengelolaan pesantren. Melalui pertemuan dengan para pengasuh dari berbagai wilayah, peserta dapat bertukar pengalaman dan memperkaya strategi pengembangan, termasuk upaya meningkatkan jumlah santri agar pesantren semakin kuat, berkembang, serta mampu memberikan kontribusi yang lebih besar bagi pendidikan Islam di Indonesia.

Sejalan dengan pembahasan itu, K. H. Imam Jazuli dalam pemaparannya menekankan bahwa kemajuan pesantren tidak boleh mengorbankan identitas dan nilai-nilai Islam. Pesantren harus tetap kokoh menjaga nilai keislaman, tetapi pada saat yang sama perlu mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman agar tetap relevan dan memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.

Dengan mengikuti workshop nasional ini, Shohwatul Is’ad turut memperkuat langkah pengembangan kualitas pengelolaan pesantren. Selain memperluas wawasan, kegiatan ini membuka ruang kolaborasi dan pertukaran gagasan yang dapat menjadi bekal dalam memperkuat peran pesantren menghadapi tantangan pendidikan di era yang terus berubah.