Upaya mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan bebas dari penyalahgunaan narkotika memerlukan kesiapan seluruh unsur yang terlibat dalam proses pembinaan santri. Pembina asrama sebagai pendidik yang mendampingi kehidupan santri selama 24 jam memiliki posisi penting dalam mengenali gejala awal, memberikan pendampingan, sekaligus melakukan langkah pencegahan secara tepat.
Atas dasar itu, pembina asrama PPMI Shohwatul Is’ad mengikuti Bimbingan Teknis Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan dalam Program Skrining dan Asesmen Narkotika Terintegrasi di Sekolah yang dilaksanakan di Auditorium Al Hijrah Lantai 2 pada Selasa (14/7). Pelatihan ini menghadirkan tim dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu Nurdiana F. Nahdalipa, SKM., M.Kes. (Konselor Adiksi Ahli Madya), Heru Arfianta, S.Sos. (Penyuluh Narkoba Ahli Muda), Asnidar, S.Farm. (Konselor Adiksi Ahli Pertama), dan Hariyadi, S.Sos. (Pendamping Pascarehabilitasi). Materi yang disampaikan meliputi perkembangan remaja, komunikasi dan etika intervensi, prosedur skrining, asesmen, hingga konseling dalam penanganan penyalahgunaan narkotika di lingkungan pendidikan.
Direktur Kepondokan PPMI Shohwatul Is’ad, Ustadz Ishaq Abdul Azis, Lc., Gr., dalam sambutannya menegaskan bahwa keikutsertaan para pembina bukan sekadar memenuhi undangan atau memperoleh sertifikat pelatihan, melainkan merupakan bagian dari tanggung jawab dalam menjaga amanah pendidikan di pesantren.
“Pembina asrama adalah orang yang paling dekat dengan kehidupan santri selama 24 jam. Karena itu, pembina memiliki peran yang sangat strategis dalam mendeteksi gejala awal, memberikan pembinaan, dan mencegah berbagai bentuk penyimpangan, termasuk penyalahgunaan narkotika,” tuturnya.
Ia juga berpesan agar seluruh peserta mengikuti setiap sesi pelatihan dengan sungguh-sungguh, aktif berdiskusi, memahami prosedur skrining dan asesmen sesuai ketentuan yang berlaku, serta mengambil pengalaman terbaik yang dapat diterapkan dalam kehidupan kepesantrenan. Menurutnya, pembina diharapkan menjadi pelopor dalam membangun budaya hidup sehat, disiplin, dan bebas narkotika di lingkungan pesantren.
Lebih lanjut, Ustadz Ishaq menekankan bahwa manfaat pelatihan tidak boleh berhenti pada peserta yang hadir. Ilmu dan keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat diteruskan kepada pembina lainnya melalui kegiatan berbagi ilmu maupun sosialisasi internal sehingga seluruh pembina memiliki pemahaman yang sama dalam menjaga dan melindungi para santri.
Selain pelatihan bagi pembina asrama, rangkaian kegiatan juga meliputi sosialisasi pencegahan penyalahgunaan narkotika kepada para santri yang diselenggarakan di Masjid Buqatul Ilmi. Melalui pembekalan kepada pembina dan edukasi langsung kepada santri SMP/SMA IT Shohwatul Is’ad. Terselenggaranya program ini diharapkan dapat meningkatkan upaya pencegahan secara menyeluruh sehingga tercipta lingkungan pesantren yang sehat, aman, dan bebas dari penyalahgunaan narkotika.



