Menghafal Al-Qur’an bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Hafalan tidak hanya diukur dari jumlah juz yang berhasil dituntaskan, tetapi juga dari sejauh mana ayat-ayat itu tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Spirit inilah yang melandasi pelaksanaan Haflah Wa At-Takrim 2026 yang diselenggarakan Kesantrian Putra PPMI Shohwatul Is’ad pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Kegiatan ini menjadi momentum apresiasi atas kesungguhan para santri dalam menapaki proses panjang menghafal Al-Qur’an. Sebanyak 43 santri menerima penghargaan atas capaian hafalan mulai dari 10 hingga 30 juz. Para peserta berasal dari berbagai jenjang pendidikan, baik SMP maupun SMA, dengan mayoritas diisi oleh santri kelas IX dan XII yang tengah berada pada fase akhir masa studi mereka.

Dari keseluruhan peserta, dua santri kelas XII berhasil menuntaskan hafalan 30 juz secara sempurna, yakni Muhammad Nabil Al-Qibrani dan Muhammad Shafwan. Capaian tersebut menjadi prestasi membanggakan yang tidak hanya mencerminkan ketekunan pribadi, tetapi juga hasil pembinaan intensif yang dilakukan secara berkelanjutan di lingkungan pesantren.

Pelaksanaan Haflah Wa At-Takrim turut dihadiri oleh perwakilan orang tua santri, baik secara langsung di lokasi acara maupun secara daring melalui siaran langsung di kanal YouTube resmi PPMI Shohwatul Isad. Kehadiran tersebut menjadi simbol dukungan keluarga dalam proses pendidikan Al-Qur’an, sekaligus memperkuat sinergi antara orang tua dan pesantren dalam membina generasi Qur’ani.

Direktur Kepondokan, Ustadz Izhak Abdul Aziz, Lc., dalam sambutannya menegaskan bahwa haflah bukanlah garis akhir dari perjalanan para penghafal Al-Qur’an. “Haflah ini adalah awalan. Setelah menuntaskan minimal 10 juz, mereka masih memiliki misi besar untuk menjaga hafalannya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan nilai-nilai Al-Qur’an,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa menjaga hafalan (murajaah) membutuhkan komitmen yang konsisten dan disiplin yang tinggi. Tantangan sesungguhnya bukan hanya menyelesaikan target hafalan, tetapi mempertahankan kualitas bacaan dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dalam setiap tindakan.