Oleh Ustadz Ramli Bakka, Lc.
Kemerdekaan Indonesia tidak lahir dari perjuangan yang sederhana. Di balik kemerdekaan yang dinikmati hari ini, terdapat pengorbanan para pendahulu bangsa yang rela menyerahkan harta, tenaga, pikiran, bahkan nyawa. Mereka berjuang agar generasi setelahnya dapat hidup lebih aman, memperoleh pendidikan, menjalankan ibadah dengan tenang, dan memiliki kesempatan untuk membangun masa depan.
Karena itu, kemerdekaan tidak semestinya berhenti sebagai sebuah perayaan. Ia adalah amanah yang harus dijaga dan diisi.
Setiap tahun, peringatan kemerdekaan menghadirkan simbol-simbol kebangsaan: upacara, pengibaran bendera, pakaian merah putih, hingga berbagai perlombaan. Semua itu penting sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah. Namun, makna kemerdekaan akan menjadi lebih dalam ketika semangat tersebut hadir dalam perilaku sehari-hari.
Bagi seorang santri, mengisi kemerdekaan tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Perjuangan dapat dimulai dari ruang kelas, asrama, masjid, bahkan dari kemampuan mengendalikan diri.
Belajar dengan sungguh-sungguh adalah perjuangan. Menjaga disiplin adalah perjuangan. Menghormati guru dan orang tua adalah perjuangan. Menjaga persaudaraan adalah perjuangan. Menjaga diri dari narkoba, perundungan, pergaulan yang merusak, dan berbagai bentuk kemaksiatan juga merupakan perjuangan.
Sebab, tantangan generasi hari ini tidak lagi sama dengan tantangan yang dihadapi para pahlawan ketika memperjuangkan kemerdekaan. Jika dahulu perjuangan diarahkan untuk membebaskan bangsa dari penjajahan, maka generasi sekarang menghadapi bentuk penjajahan yang berbeda: kebodohan, kemalasan, lemahnya karakter, ketergantungan pada hal-hal negatif, serta berbagai pengaruh yang dapat menjauhkan generasi muda dari masa depan yang baik.
Di sinilah pendidikan memiliki peran penting. Pendidikan tidak hanya bertugas menghasilkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki karakter, integritas, kemandirian, dan kepedulian terhadap sesama.
Pesantren memiliki posisi strategis dalam proses tersebut. Kehidupan pesantren mempertemukan santri dengan pendidikan ilmu, pembinaan akhlak, kedisiplinan, ibadah, dan kehidupan bersama. Setiap rutinitas yang dijalani santri sesungguhnya dapat menjadi latihan untuk membentuk pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab.
Prinsip perubahan itu telah ditegaskan Allah SWT dalam QS. Ar-Ra‘d ayat 11:
إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Ayat tersebut mengajarkan bahwa perubahan besar selalu berawal dari perubahan diri. Keinginan melihat Indonesia menjadi bangsa yang maju harus dimulai dari kesediaan setiap generasi untuk memperbaiki dirinya.
Jika ingin melihat Indonesia maju, mulailah dengan menjadi santri yang rajin belajar.
Jika ingin melihat Indonesia berakhlak, mulailah dengan memperbaiki akhlak diri.
Jika ingin melihat Indonesia kuat, mulailah dengan membangun kedisiplinan.
Jika ingin Indonesia dihormati dunia, mulailah dengan menjadi generasi yang berilmu dan berintegritas.
Dengan demikian, kemerdekaan tidak dapat dimaknai sebagai kebebasan tanpa batas. Merdeka bukan berarti bebas mengikuti semua keinginan. Justru, kemerdekaan sejati terlihat dari kemampuan seseorang untuk mengendalikan dirinya dan memilih sesuatu yang benar meskipun tidak selalu mudah.
Seorang santri yang mampu mengatakan “tidak” kepada kemalasan, kebohongan, narkoba, perundungan, dan pergaulan yang merusak sesungguhnya sedang menunjukkan bentuk kemerdekaan yang nyata. Sebaliknya, kemampuan untuk mengatakan “ya” kepada ilmu, disiplin, prestasi, akhlak mulia, pengabdian, bangsa, dan agama merupakan bentuk lain dari perjuangan.
Maka, tidak perlu menunggu menjadi orang dewasa untuk memberikan kontribusi bagi Indonesia. Seorang santri dapat memulainya dari hal-hal sederhana: datang tepat waktu, belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga kebersihan, menghormati guru, menyayangi teman, menaati aturan, dan melaksanakan ibadah dengan baik.
Hal-hal tersebut mungkin terlihat kecil. Namun, karakter besar selalu dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Para pahlawan telah menyelesaikan perjuangan pada zamannya. Kini, tongkat estafet perjuangan berada di tangan generasi muda. Bentuk perjuangannya memang berbeda, tetapi tanggung jawabnya tetap sama: menjadikan kemerdekaan sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih baik.
Karena itu, semangat kemerdekaan seharusnya tidak hanya terdengar ketika lagu kebangsaan dinyanyikan atau ketika bendera dikibarkan. Semangat itu harus hidup dalam kesungguhan belajar, keteguhan menjaga akhlak, kedisiplinan menjalani kehidupan, serta keberanian memilih kebaikan di tengah berbagai tantangan zaman.
Kemerdekaan adalah warisan. Tetapi menjadi generasi yang layak menerima dan meneruskan warisan itu adalah sebuah perjuangan.
Dan perjuangan itu dapat dimulai dari diri sendiri, hari ini.