ECAST DAN PENGHAYATAN KEHIDUPAN

In Artikelby PPMI Shohwatul Is'adLeave a Comment

Pendaftaran ECAST telah dibuka. ECAST adalah singkatan dari English Camp and  Study Tour, sebentuk Educational journey  untuk meningkatkan mutu berbahasa Inggris, program tahunan yang ditawarkan oleh Pondok Pesantren Shohwatul Is’ad kepada santri-santrinya. Destinasinya adalah Kediri, nama yang sepertinya akan menjadi legenda pengembangan Bahasa Asing di Indonesia. Ketika pendaftaran ini dibuka, peserta yang akan turut serta membludak, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Sekitar 60 santri tercatat namanya di catatan registrasi panitia.

Bukan karena Pondok Pesantren tidak bisa mengembangkan Bahasa Asing secara mandiri, sama sekali tidak. Lebih karena ada nilai filosofis yang hendak ditanam, menjadi bahan baku penghayatan kehidupan yang akan dituai oleh santri kelak. Nilai filosofis itu adalah tentang arti keindahan. Bayangkan orang gunung yang merindukan kehidupan pantai, orang pantai menatap lamat-lamat gunung sembari menghadirkan keindahan penghidupan gunung di dalam benaknya. Orang kota memuji betapa arifnya kehidupan di pedesaan, sementara orang di pedesaan mengagumi perkotaan. Tak ada yang tetap, sepertimana waktu pun adalah peristiwa mental belaka. Mereka yang berasyik-masyuk dengan kekasihnya akan melewati rentan waktu yang serasa sebentar saja, tapi yang dilanda keberpisahan jarak maka setiap detiknya bak setahun.

“Ayo keluarlah santri-santriku, lihat dunia yang membentang!” Suara ini seolah-olah terdengar dari benak panitia ECAST, tentu saja setelah melewati pikiran panjang pada segenap civitas pondok . “Jamahi segenap lorong dunia dengan penghayatan baru!” Apa yang anda pikirkan saat kalimat itu ditawarkan kepada santri yang kian waktu menggenang dikisaran kehidupan pondok pesantren yang monoton? Mereka bak orang gunung yang merindukan pantai. Seruan itu tentu saja disambut dengan riang. Ini suara keabsahan, santri harus menembus horizon dunia, gerbang Pondok Pesantren bukanlah tapal batas pikiran dimana disitulah segenap penghayatan kehidupan ditambatkan, sebab dunia di luar gerbang lebih menantang.

Bagaimana dengan Orang Tua Santri? Tak ada masalah. “Kami berpikir bahwa 20 tahun di masa yang akan datang, ilmu alat(semisal Bahasa Inggris) akan menjadi primadona. Betapa tidak, batas-batas Negara sekadar ilusi dan bahasa adalah pemecah kebuntuan.” demikian komentar salah satu orang-tua santri. Memang tak ada yang perlu dikhawatirkan, keberangkatan ini, sekali lagi telah melewati permenungan yang dalam. Seluruh aktivitas khas Pondok Pesantren akan diberlakukan sama dengan. “Mereka bahkan bangun lebih cepat,” Ulas Ust. Adi, pendamping santri dalam journey ini. “Pada pukul 3 dini hari mereka telah dibangunkuan, shalat Tahajjud, Subuh berjamaah dan pembacaan surah al-Waqiah.” Imbuhnya.

Akhirnya ECAST benar-benar menjadi bina mentalr. Santri Pondok Pesantren, tidak boleh gagap mengartikulasikan ilmu ilmu pengetahuan walu sedikit. Mengartikulasika Ilmu jauh lebih penting dari mengendapkannya walaupun jumlahnya banyak,”kita bisa bercakap dengan Bule ust, biar pun kosa kata sedikit,” demikian tutur salah satu peserta ECAST, Rehan Naufal.

Berbagi informasi kebaikan

Leave a Comment