Siang bolong, di pasar Athena, ramai sesak manusia. Namun, Diogenes Sinope justru menyalakan lentera, berjalan menyusuri kerumunan sambil berteriak, “Anthrōpon zētō, aku mencari manusia.” Atau dalam bahasa Arab, “Aina al-insān?” Mana itu manusia? Manusia ada di mana-mana, tetapi Diogenes tidak menemukannya. Sebab, yang ia cari bukan homo sapiens yang bernapas, makan, dan beranak-pinak. Yang ia cari adalah manusia yang memanusiakan dirinya. Sepuluh tahun ke depan, kita hidup di supermal yang lebih ramai, yaitu 9 miliar manusia hilir mudik, konten tak henti. Namun, pertanyaan Diogenes tetap relevan: di tengah keramaian ini, di mana manusia yang benar?
Al-Qur’an menyebut manusia dengan tiga istilah: basyar berarti fisik biologis, insan berarti makhluk yang lupa dan butuh belajar, an-nas berarti makhluk sosial. Hakikat manusia bukan cuma daging dan tulang. Aristoteles bilang zoon logikon “hewan yang berakal”. Namun, akal saja juga tidak cukup. Hitler juga berakal, tetapi dengan genosida membunuh 11 juta orang Yahudi, lalu menembak kepalanya sendiri. Manusia sejati adalah basyar yang dididik akalnya dan ditata moralnya sehingga naik derajat jadi insan kamil.
Nabiullah Ibrahim AS diperintah menyembelih Ismail, tetapi hakikat yang dikorbankan adalah rasa kepemilikan. Daging tidak sampai kepada Allah. Yang sampai adalah takwa. Inilah definisi manusia sejati: makhluk yang berani menyembelih “Ismail” dalam dirinya. Ismailmu mungkin hartamu, jabatanmu, gelarmu, atau egomu. Selama kita masih diperbudak “Ismail-Ismail” itu, kita masih di level kebinatangan. Manusia sejati adalah yang inni dzahibun ila Rabbi, pergi meninggalkan sifat binatang menuju Tuhan.
Mari mempertebal kesetiakawanan seperti Nabiullah Ibrahim AS ketika ditanya, “Fa aina tazhabun?” “Ke mana kamu, Ibrahim?” “Aku ingin menjumpai Tuhanku,” sembari di tangannya menggiring 100 unta, 300 lembu, dan 1.000 domba untuk kurban. Kelas menengah Indonesia 47,85 juta jiwa, tetapi dalam tiga tahun terakhir hanya 2 juta yang berkurban dengan jumlah hewan kurban 2,1 juta, terdiri atas 530 ribu sapi dan 1,6 juta kambing. Nilai total rupiah sekitar Rp32 triliun. Artinya, hanya 4 orang dari 100 orang yang sadar berkurban. Inilah krisis social care umat Islam Indonesia.
Apa yang mau dibanggakan soal kekayaan? Paham The Law of Diminishing Marginal Utility menyebutkan bahwa harta tidak bikin bahagia. Hanya moral being yang berwujud social care yang membuat kita manusia.
Diogenes mencari manusia dengan lentera di siang hari karena ulah manusia yang hidup tetapi tidak sadar: salat tetapi korupsi, kaya tetapi pelit, pintar tetapi durhaka. Inilah yang disebut Zygmunt Bauman sebagai Liquid Modernity: paceklik identitas, jati diri goyah, empati luntur. Tepat sekali pernyataan filsuf Rusia, Tolstoy:
“Jangan ceritakan tentang agamamu kepadaku. Izinkan aku melihat agamamu lewat tindakanmu. Jika kamu merasakan sakit, kamu masih hidup. Namun, jika kamu merasakan sakit orang lain, pertanda Anda adalah manusia.”
Jika Diogenes Sinope hidup hari ini, dia akan berkata, “Aku akan padamkan korek yang aku pegang, tetapi nyalakan lentera dirimu lewat social intelligence.”
Selamat berkurban.
Selamat Iduladha.
Dr. KH. Masrur Makmur Latanro, M.Pd.I