Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif, Arsitek Kesadaran
Kami, sahabat-sahabatnya memanggilnya “Fahizun”.
Kata tersebut dalam bahasa Arab berarti paha. Di antara kami, postur tubuhnya memang tampak lebih besar. Ukuran pahanya terlihat relatif lebih besar. Namun tubuh yang besar itu justru menyimpan kelincahan seorang atlet.
Di lapangan bulu tangkis, ia bergerak ringan, tangkas, dan penuh tenaga. Ia kerap mewakili Pesantren IMMIM dalam berbagai pertandingan. Dari sanalah kenangan tentang dirinya tumbuh: seorang santri dengan postur tubuh besar, tetapi juga dengan semangat besar untuk menaklukkan lapangan dan kehidupan. Namun julukan “Fahizun” terkait erat dengan hobi dan bakatnya di sepak bola. Pemain bola yang sulit ditembus pertahannya. Postur tubuh dengan paha yang besar.
Di Pesantren IMMIM, ia memilih jurusan fisika.
Cita-citanya sederhana, menjadi seorang insinyur teknik. Ia ingin memasuki fakultas teknik. Dua kali mencoba, dua kali pula belum berjodoh dengan fakultas yang diimpikannya.
Mungkin, pada saat itu, ia merasa sedang gagal. Tetapi sesungguhnya, ia hanya sedang diarahkan.
Pada usahanya berikutnyalah ia diterima di Sastra Arab. Di situlah takdir mulai berbicara dengan bahasa yang tidak selalu segera dipahami manusia. Rahasia kehidupan sering kali tidak membawa kita ke tempat yang kita inginkan. Ia menuntun kita ke tempat yang sebenarnya kita butuhkan.
Hari ini, sahabat kami itu berdiri sebagai seorang Guru Besar.
Prof. Dr. Yusring Sanusi Baso, S.S., M.App.Ling., resmi menyandang gelar Guru Besar di bidang Ilmu Pembelajaran Bahasa Berbantuan Komputer pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin.
Ada keindahan yang sulit dijelaskan dalam perjalanan itu. Seorang anak muda yang dahulu bercita-cita menjadi insinyur teknik, justru menemukan dunia masa depannya di antara huruf Arab, aksara Lontara, linguistik, komputer, dan teknologi pembelajaran.
Ia tidak menjadi insinyur sebagaimana yang dahulu dibayangkannya. Namun, bukankah seorang insinyur sesungguhnya adalah orang yang membangun sesuatu?
Jika seorang insinyur membangun jembatan dari baja dan beton, Prof Yusring membangun jembatan dari bahasa, teknologi, dan kebudayaan.
Ia membangun jembatan antara masa lalu dan masa depan. Antara aksara dan teknologi. Antara tradisi dan kecerdasan buatan. Antara bahasa manusia dan mesin.
Dan mungkin, di situlah takdir menemukan bentuk terbaiknya.
Pada tahun 1993, ketika menulis skripsi dalam bahasa Arab, Prof Yusring berhadapan dengan sebuah persoalan yang bagi banyak orang mungkin tampak sederhana, tetapi bagi seorang peneliti justru dapat menjadi awal dari sebuah perjalanan panjang.
Ia harus menulis dengan mesin ketik Arab.
Pada masa itu, komputer dan aplikasi pengolah kata seperti WordStar telah dikenal. Namun, karakter Arab belum mudah digunakan. Di sisi lain, ia juga berhadapan dengan aksara Lontara.
Dua sistem aksara. Dua dunia kebudayaan. Satu mesin. Dan di tengah keterbatasan teknologi, lahirlah sebuah pertanyaan besar:
Mengapa manusia harus menyesuaikan bahasa dan aksaranya kepada keterbatasan mesin?
Mengapa bukan mesin yang dikembangkan agar mampu memahami kekayaan bahasa dan aksara manusia?
Pertanyaan itulah yang kemudian menjadi benih.
Benih itu tidak langsung tumbuh menjadi pohon.
Ia menunggu. Menunggu ilmu. Menunggu kesempatan. Menunggu perjalanan akademik. Menunggu takdir.
Tahun 1995 hingga 1998, melalui beasiswa program URGE Bank Dunia, Prof Yusring melanjutkan studi magister di bidang Ilmu Linguistik Pascasarjana Universitas Hasanuddin yang bekerja sama dengan Summer Institute of Linguistics, Amerika Serikat.
Di sana, ia menemukan komputerisasi linguistik.
Sebuah bidang yang mempertemukan bahasa dan teknologi. Di titik itu, pengalaman masa lalu tidak lagi menjadi sekadar kenangan tentang kesulitan menulis skripsi.
Ia berubah menjadi pertanyaan akademik, yang kemudian dijawab melalui penelitian dan bermuara pada inovasi dan membawanya menemukan bentuk pengabdian.
Begitulah ilmu bekerja. Kegelisahan tumbuh melalui ketekunan, lalu menemukan bentuknya melalui penelitian. Dan ia memperoleh makna ketika bermanfaat bagi manusia.
Hari ini, melalui gagasan Computer Assisted Language Learning atau CALL, Prof Yusring mengembangkan pembelajaran bahasa berbantuan komputer.
CALL bukan sekadar penggunaan komputer dalam pembelajaran bahasa. Ia adalah cara dan media untuk memperluas ruang belajar.
Dari ruang kelas menuju layar. Dari buku menuju perangkat digital. Dari pembelajaran yang seragam menuju pembelajaran yang lebih personal.
Teknologi dapat meningkatkan motivasi, memperkaya pengalaman belajar, serta membuka ruang diferensiasi dan personalisasi.
Namun, teknologi tidak pernah menjadi jawaban tunggal. Ia hanyalah alat.
Ia dapat menjadi jembatan, tetapi juga dapat menjadi dinding.
Ia dapat memperluas pengetahuan, tetapi juga dapat memperlebar kesenjangan.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah seberapa canggih teknologi yang kita miliki.
Melainkan, untuk apa teknologi itu digunakan,
serta siapa yang memperoleh manfaat darinya?
Di sinilah pemikiran Prof Yusring menjadi penting.
Teknologi tidak boleh berhenti pada kecanggihan. Ia harus sampai pada kebermanfaatan.
Yang menarik, perjalanan CALL Prof Yusring tidak berhenti pada bahasa Arab.
Ia juga menyentuh aksara Lontara. Aksara yang menyimpan ingatan kebudayaan masyarakat Bugis-Makassar.
Aksara yang pernah menjadi medium untuk menulis sejarah, nilai, pengetahuan, pesan, dan kebijaksanaan leluhur.
Namun, setiap aksara yang tidak lagi digunakan akan menghadapi ancaman kepunahan.
Sebab aksara bukan hanya kumpulan bentuk, melainkan juga rumah ingatan.
Ketika sebuah aksara hilang, sebagian cara manusia memahami dunia juga ikut menghilang.
Karena itu, digitalisasi aksara Lontara bukan sekadar proyek teknologi. Ia adalah pekerjaan kebudayaan yang menyelamatkan memori. Sebuah ikhtiar agar generasi mendatang tidak hanya mengenal Lontara sebagai artefak museum, tetapi juga sebagai bahasa hidup yang dapat dibaca, ditulis, dikembangkan, dan digunakan dalam ekosistem digital.
Prof Yusring mengembangkan karakter angka Lontara pada 2007.
Kemudian, Lontara Yusring berbasis Windows pada 2008. Yusring Keyboard pada 2011. Aplikasi aksara Lontara berbasis Android pada 2014. Dan salah satu capaian yang sangat penting: menjadikan aksara Lontara sebagai bagian dari terjemahan Al-Qur’an 30 juz.
Di sini, teknologi menemukan dimensi spiritualnya. Ia tidak hanya bekerja untuk mempercepat, tetapi juga dapat bekerja untuk melestarikan.
Namun, perjalanan itu belum selesai.
Masih ada satu cita-cita yang belum tuntas: mengubah gambar aksara Lontara menjadi teks ketika dipindai.
Di sinilah seorang ilmuwan berbeda dari seseorang yang sekadar telah mencapai kesuksesan.
Baginya, keberhasilan bukanlah akhir dari perjalanan, sebab setiap jawaban justru melahirkan pertanyaan baru. Setiap penemuan membuka pintu bagi penemuan berikutnya.
Setiap capaian menyisakan ruang untuk disempurnakan.
Maka, seorang Guru Besar bukanlah orang yang telah mengetahui segala sesuatu.
Guru Besar adalah orang yang terus menjaga keberanian untuk mengatakan:
“Masih ada yang belum selesai.”
Kalimat itu bukan tanda kelemahan, tetapi pertanda
bahwa ilmu masih hidup.
Dari pengembangan CALL, gagasan Prof Yusring juga berkontribusi pada lahir dan berkembangnya Sistem Kelola Pembelajaran atau Sikola di Universitas Hasanuddin.
Pengetahuan yang lahir dari kegelisahan pribadi akhirnya menjadi bagian dari sistem pendidikan yang digunakan oleh banyak orang.
Sebuah persoalan yang dahulu dihadapi seorang mahasiswa ketika menulis skripsi dengan mesin ketik, perlahan berkembang menjadi inovasi yang membantu pembelajaran di sebuah universitas.
Begitulah hakekat perjalanan ilmu? Ia bermula dari persoalan kecil, ditekuni dengan sungguh-sungguh, dan.pada akhirnya melahirkan perubahan besar.
Saya mengenal Prof Yusring bukan hanya dari gelar akademiknya hari ini.
Saya mengenalnya dari masa lalu. Dari seorang santri di Pesantren IMMIM.
Hoby bulu tangkis dan santri yang memilih fisika. Anak muda pesantren yang bercita-cita menjadi insinyur teknik. Dua kali mencoba masuk fakultas teknik, tetapi belum berhasil, tapi percobaan ketiga, ia diterima di Sastra Arab.
Mungkin saat itu, ia tidak menyadari bahwa kegagalan dua kali masuk teknik sedang mengantarkannya menuju sebuah jalan yang jauh lebih luas.
Sebab, jika ia diterima di teknik pada percobaan pertama, mungkin kita tidak mengenal Prof Yusring sebagai seorang Guru Besar Ilmu Pembelajaran Bahasa Berbantuan Komputer.
Mungkin ia akan menjadi insinyur. Dan itu juga baik.
Tetapi Tuhan, melalui jalan yang tidak selalu kita mengerti, telah memilihkan jalan yang lain.
Jalan yang mempertemukan bahasa Arab dengan komputer, yang mempertemukan Lontara dengan teknologi digital. Mempertemukan kebudayaan dengan kecerdasan buatan.
Dari sini kita belajar satu hal penting bahwa tidak semua penolakan adalah kegagalan.
Kadang-kadang, pintu yang tertutup adalah cara kehidupan mengarahkan kita menuju pintu yang lebih sesuai dengan panggilan jiwa.
Jika kegagalan datang karena tidak memperoleh apa yang kita inginkan, boleh jadi itulah yang menyelamatkan kita dari kehidupan yang bukan jalan kita.
Takdir memiliki cara kerja yang tidak selalu menjelaskan dirinya pada awal perjalanan. Ia membiarkan kita berjalan. Mencoba. Gagal. Mengulang. Menunggu. Lalu, bertahun-tahun kemudian, ketika kita menoleh ke belakang, barulah kita memahami bahwa ternyata semua itu memang harus terjadi.
Seorang anak santri yang dahulu dipanggil dengan nama yang sulit kami sebut karena maknanya berkaitan dengan “paha”, kini telah menjadi seorang Guru Besar yang berbicara tentang masa depan bahasa.
Dari lapangan bulu tangkis menuju ruang Senat Akademik. Dari mesin ketik Arab menuju kecerdasan buatan. Dari aksara Lontara yang terancam punah menuju dunia digital.
Selamat kepada sahabatku, Prof. Dr. Yusring Sanusi Baso, S.S., M.App.Ling.
Gelar Guru Besar yang diraih di 2021 dan pidato pengukuhannya di 2023, bukan hanya penghargaan atas capaian akademik. Melainkan pengakuan atas perjalanan panjang, kegigihan, ketekunan dan keberanian untuk mengubah kesulitan menjadi peluang.
Untuk para mahasiswa, santri, dan anak-anak muda yang sedang menghadapi penolakan, kegagalan, atau jalan hidup yang belum sesuai dengan harapan, barangkali kisah Prof Yusring menyampaikan sebuah pesan:
“Jangan terlalu cepat menghakimi jalan yang sedang kamu tempuh.
Boleh jadi, jalan yang hari ini tampak sebagai belokan adalah jalan utama menuju takdirmu”.
Kegagalan yang hari ini terasa pahit adalah cara kehidupan menyelamatkanmu dari pilihan yang bukan milikmu.
Dan ketika satu pintu tertutup, Tuhan sedang membukakan pintu lain yang belum penah engkau bayangkan.k
Takdir tidak pernah benar-benar menghapus cita-cita. Ia hanya mengubah bentuknya menjadi sesuatu yang lebih luas, lebih bermanfaat, dan lebih bermakna. Dan dengan lembut ia berbisik
“Inilah jalanmu.”
__________
Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban